Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Mengenang Jejak Pertempuran di Kota Pahlawan 80 Tahun Lalu

Skintific

Banjar – Mengenang Jejak Pertempuran Tepat delapan dekade berlalu sejak dentuman meriam dan pekik “Merdeka!” menggema di langit Surabaya pada November 1945. Kota yang kini menjelma menjadi pusat perdagangan dan industri itu dahulu menjadi saksi bisu salah satu pertempuran paling heroik dalam sejarah Indonesia — Pertempuran 10 November, yang melahirkan gelar abadi bagi Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Delapan puluh tahun kemudian, semangat perjuangan itu tak pernah pudar. Setiap tahun, masyarakat Surabaya dan seluruh Indonesia memperingati Hari Pahlawan bukan hanya sebagai upacara seremonial, tetapi juga sebagai momen refleksi atas keberanian rakyat yang melawan penjajahan demi harga diri bangsa. Tahun 2025 ini menjadi peringatan yang istimewa: 80 tahun sejak pertempuran besar itu terjadi.

Skintific

Awal Konflik: Bara Perlawanan Rakyat Surabaya

Sejarah mencatat, pertempuran besar di Surabaya bermula dari situasi politik yang memanas setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pasukan Sekutu yang datang ke Indonesia dengan dalih melucuti senjata Jepang justru diboncengi oleh tentara Belanda (NICA) yang berniat merebut kembali kekuasaan.

Mengenang Jejak Pertempuran
Mengenang Jejak Pertempuran

Baca Juga : Wisuda Haru di Banjar: Lagu ‘Ayah’ dari Seventeen Bikin Menangis

Di Surabaya, rakyat yang telah mencicipi nikmatnya kemerdekaan menolak keras kembalinya kolonialisme. Ketegangan mencapai puncaknya pada 30 Oktober 1945, ketika Brigadir Jenderal Mallaby, pemimpin pasukan Inggris di Surabaya, tewas dalam insiden pertempuran di kawasan Jembatan Merah.

Kematian Mallaby membuat Inggris murka. Mereka mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya agar menyerahkan diri dan semua senjata paling lambat tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi. Namun, rakyat menolak tunduk.

“Selama masih ada darah merah yang mengalir, kami tidak akan menyerah kepada siapa pun!” demikian seruan yang menggema dari para pemuda kala itu.

10 November 1945: Neraka di Surabaya

Fajar 10 November 1945 menjadi saksi pecahnya pertempuran dahsyat. Pesawat tempur Inggris menggempur kota dari udara, kapal perang menembaki pelabuhan Tanjung Perak, sementara tank-tank dan pasukan darat menyerbu ke jantung kota.

Namun rakyat Surabaya tidak gentar. Di bawah komando tokoh-tokoh pejuang seperti Bung Tomo, Doel Arnowo, H.R. Muhammad, dan banyak pemimpin lokal lainnya, mereka melawan dengan senjata seadanya — bambu runcing, granat tangan rakitan, dan semangat kemerdekaan yang tak bisa dibendung.

Bung Tomo, lewat siaran radio yang melegenda, menyulut semangat rakyat:

“Saudara-saudara, kita bangsa Indonesia yang cinta kemerdekaan. Lebih baik hancur lebur daripada tidak merdeka! Merdeka atau mati!”

Selama lebih dari tiga minggu, Surabaya menjadi lautan api. Ribuan pejuang gugur, ribuan bangunan hancur, tetapi semangat perlawanan itu tak pernah padam. Dunia pun tercengang melihat bagaimana rakyat biasa, tanpa senjata modern, berani menantang kekuatan militer besar seperti Inggris.

Korban Jiwa dan Makna Pengorbanan

Menurut catatan sejarah, sedikitnya 16.000 pejuang dan warga sipil Indonesia gugur dalam pertempuran ini. Di sisi lain, pasukan Inggris kehilangan sekitar 2.000 tentaranya. Pertempuran Surabaya menjadi salah satu konflik paling berdarah di awal Revolusi Nasional Indonesia.

Namun di balik kehancuran itu, ada kemenangan moral yang luar biasa. Perlawanan rakyat Surabaya menjadi simbol keberanian seluruh bangsa Indonesia. Dunia internasional mulai memperhatikan perjuangan Indonesia, dan semangat Surabaya menyebar ke berbagai daerah lain.

Skintific