Banjar – Hotel Wisma Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, kembali menjadi sorotan dengan digelarnya Festival Pacu Jalur yang berlangsung meriah.
Event budaya tahunan ini menjadi magnet wisata yang mampu menarik puluhan ribu pengunjung dari dalam maupun luar daerah.
Menjelang pelaksanaan Festival Pacu Jalur, seluruh hotel dan wisma di Kota Teluk Kuantan, ibu kota Kuansing, dilaporkan telah penuh dipesan.
Pemesanan kamar bahkan sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum festival dimulai, sebagian sejak dua bulan sebelumnya.
Tingginya animo masyarakat membuat ketersediaan akomodasi di daerah tersebut menjadi sangat terbatas.
Beberapa pengunjung yang tidak kebagian kamar hotel terpaksa mencari alternatif tempat menginap di rumah-rumah warga.
Baca Juga : Satgas Damai Cartenz tangkap penembak anggota Polri di Puncak Jaya
Fenomena ini bukan hal baru, karena setiap tahun Festival Pacu Jalur memang selalu menyebabkan lonjakan jumlah wisatawan.
Sejumlah pengelola hotel menyebutkan bahwa okupansi mencapai 100% dalam waktu singkat setelah tanggal festival diumumkan.
Salah satu manajer hotel di Teluk Kuantan mengatakan bahwa semua kamar sudah habis dipesan sejak awal Agustus.
“Begitu jadwal festival diumumkan, langsung banjir reservasi. Kami tidak punya kamar kosong lagi,” ujarnya.
Wisma-wisma kecil dan penginapan nonbintang pun ikut penuh karena tingginya permintaan.
“Festival Pacu Jalur adalah ‘musim panen’ bagi kami,” kata seorang pemilik homestay lokal.
Tak hanya hotel, jasa transportasi lokal, warung makan, dan toko oleh-oleh juga turut menikmati peningkatan penghasilan.
Ekonomi warga sekitar ikut bergerak pesat berkat kehadiran para tamu dari berbagai penjuru Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Kuansing juga mengaku bersyukur atas antusiasme masyarakat dan dampaknya terhadap sektor pariwisata.
Dinas Pariwisata setempat mencatat lebih dari 40 ribu pengunjung hadir dalam rangkaian kegiatan festival tahun ini.
Kepala Dinas Pariwisata menyebut bahwa pihaknya telah mengantisipasi lonjakan wisatawan dengan membuka penginapan alternatif.
Sejumlah rumah warga difungsikan sebagai homestay dadakan dengan pengawasan ini
“Kami mendorong warga untuk membuka rumahnya bagi tamu, tentu dengan standar kenyamanan dan keamanan tertentu,” ujarnya.
