Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Siswa Kota Pasuruan Kerasan di Sekolah Rakyat

Skintific

Banjar – Siswa Kota Pasuruan Di tengah maraknya keluhan soal pendidikan formal yang kaku dan penuh tekanan, ada satu pemandangan berbeda di sudut Kota Pasuruan. Bukan di gedung bertingkat, bukan pula di ruang kelas berpendingin udara. Tapi di sebuah ruang sederhana, terbuka, dan penuh tawa—di situlah “Sekolah Rakyat” berdiri dan justru membuat banyak siswa betah luar biasa.

Tidak ada bel yang memekakkan telinga, tidak ada seragam yang harus disetrika tiap pagi, dan tak ada tekanan rangking. Tapi anehnya, anak-anak di sini justru semangat datang setiap hari. Bahkan rela datang lebih pagi—bukan karena takut dihukum, tapi karena rindu belajar dengan cara yang berbeda.

Skintific

Sekolah Rakyat: Belajar Pakai Hati

Sekolah Rakyat di Kota Pasuruan ini bukan sekadar alternatif. Ia menjadi oase bagi banyak anak yang sebelumnya merasa “tidak cocok” dengan sistem pendidikan konvensional. Di sinilah mereka belajar matematika lewat permainan, menggambar sambil bercerita, dan belajar kehidupan dari kegiatan langsung di lapangan.

“Saya suka belajar di sini karena gurunya baik, enggak marah-marah, dan kita boleh bertanya apa saja,” kata Adit, siswa kelas 5 dengan senyum lebar.

Di sinilah, belajar bukan tentang menghafal, tapi memahami. Bukan soal nilai ujian, tapi nilai kehidupan.

Siapa yang Mengajar? Siapa Saja yang Mau Peduli

Siswa Kota Pasuruan
Siswa Kota Pasuruan

Baca Juga : Terbaring Lemas Akibat Stroke, Seniman Legendaris Kota Banjar

Sekolah Rakyat ini berdiri dari semangat gotong royong. Pengajarnya bukan hanya guru bersertifikat, tapi juga relawan, mahasiswa, pegiat literasi, dan siapa pun yang ingin berbagi ilmu. Materinya pun menyesuaikan minat dan kebutuhan anak-anak.

Mulai dari literasi, seni, pertanian, hingga keterampilan hidup seperti memasak dan membuat kerajinan—semuanya bisa masuk ke kurikulum dinamis ala Sekolah Rakyat.

“Anak-anak bukan hanya butuh pelajaran, tapi butuh dimanusiakan. Di sini, mereka dihargai, diajak dialog, bukan hanya disuruh diam dan mencatat,” kata Bu Endang, salah satu relawan pengajar.

Bukan Sekolah Kelas Dua, Tapi Sekolah yang Bikin Tumbuh

Meskipun fasilitasnya sederhana, semangat di Sekolah Rakyat jauh dari sederhana. Justru karena tanpa tekanan dan sistem yang kaku, anak-anak jadi lebih percaya diri, berani bertanya, dan menemukan potensi diri yang selama ini tersembunyi.

Orang tua pun mulai merasakan dampaknya. Banyak yang awalnya ragu, kini malah terlibat aktif dan mendukung penuh keberadaan sekolah ini.

“Anak saya dulunya pemalu sekali. Sekarang malah bisa tampil nyanyi di depan kelas. Saya terharu,” ujar Ibu Wahyu, wali murid.

Pasuruan Bisa, Indonesia Bisa Lebih Banyak

Apa yang terjadi di Sekolah Rakyat Pasuruan bukan hanya cerita lokal. Ini bisa jadi inspirasi nasional. Bahwa pendidikan tidak harus mahal, tidak harus megah, tapi harus membebaskan dan memanusiakan.

Karena hakikat sekolah bukan soal gedung, tapi tempat di mana anak-anak merasa diterima dan tumbuh.


Catatan Akhir: Sekolah Rakyat, Sekolah yang Rakyat Bangun

Di saat sebagian sekolah mengejar akreditasi dan ranking, Sekolah Rakyat memilih mengejar sesuatu yang lebih penting: membentuk karakter dan menumbuhkan cinta belajar.
Dan siapa sangka? Murid-murid di sana justru tak ingin pulang cepat. Karena ternyata, ketika sekolah benar-benar ramah dan menyenangkan, anak-anak tidak perlu disuruh—mereka akan datang sendiri.

Skintific