Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Terbaring Lemas Akibat Stroke, Seniman Legendaris Kota Banjar

Skintific

Banjar – Terbaring Lemas Suasana haru menyelimuti sebuah rumah sederhana di sudut Kota Banjar, saat Engkus Tumaritis, maestro seni Sunda yang dikenal dengan humor, sindiran cerdas, dan keluhuran budayanya, dijemput oleh tim medis dari Rumah Sakit Bhayangkara Purwokerto (RSBP). Bukan dalam sorotan panggung atau tepuk tangan penonton, tapi dalam kondisi terbaring lemas karena stroke.

Terbaring Lemas
Terbaring Lemas

Baca Juga : Transformasi Layanan Kesehatan hingga Operasi Bibir Sumbing

Skintific

Engkus, yang selama puluhan tahun mewarnai panggung rakyat dengan kesenian tradisional dan cerita-cerita bernasnya, kini terdiam — tubuhnya lemah, tapi sorot matanya tetap menyimpan cahaya semangat seorang pejuang seni.

Dari Panggung ke Perjuangan Melawan Sakit

Sebelum sakit, Engkus dikenal luas di Jawa Barat dan sekitarnya lewat pementasan Tumaritis, yang bukan hanya hiburan, tapi juga sarana menyampaikan kritik sosial dan pesan moral dengan gaya jenaka nan tajam. Namun dalam beberapa bulan terakhir, kesehatannya terus menurun.

Sampai akhirnya, tubuhnya tak lagi kuat berdiri. Stroke membuatnya hanya bisa terbaring, tak mampu berucap lantang seperti biasanya. Kabar kondisi Engkus pun sampai ke telinga para relawan dan tim kesehatan dari RSBP yang segera bergerak untuk memberi pertolongan.

“Ini bentuk penghormatan kami kepada sosok yang telah banyak berjasa menghidupkan seni dan budaya. Engkus bukan hanya seniman, dia adalah guru kehidupan,” ujar salah satu perwakilan tim medis RSBP.

Dijemput dengan Penuh Empati

Proses penjemputan Engkus Tumaritis bukan sekadar tindakan medis. Ini adalah langkah penuh empati dan penghormatan. Tim datang tidak hanya membawa tandu, tetapi juga membawa semangat kemanusiaan dan cinta pada warisan budaya.

Warga sekitar yang menyaksikan momen itu pun tak kuasa menahan haru. Beberapa terlihat menyeka air mata, sebagian lagi mengatupkan tangan—mendoakan sosok yang selama ini menjadi “cermin masyarakat” melalui keseniannya.

Panggilan untuk Tidak Melupakan Seniman Sepuh

Kisah Engkus adalah cerminan dari kenyataan yang kerap kita abaikan: Banyak seniman besar yang di masa tuanya harus berjuang sendiri melawan sakit, dalam senyap. Mereka yang dulu menghibur dan menyadarkan, kini nyaris dilupakan.

Namun tidak untuk Engkus. Meskipun terbaring sakit, ia tidak sendiri. Dukungan mulai mengalir dari berbagai kalangan—seniman, tokoh budaya, hingga masyarakat biasa. Mereka sadar, Engkus bukan hanya nama. Ia adalah bagian dari jati diri budaya Sunda.


Penutup: Seni Bisa Pudar, Tapi Jasa Tak Boleh Hilang

Engkus Tumaritis mungkin tidak lagi berdiri di atas panggung seperti dulu, namun perjuangannya, nilai-nilai yang ia suarakan, dan semangat melestarikan budaya akan terus hidup dalam ingatan. Penjemputannya oleh tim RSBP bukan hanya pertolongan medis—tetapi tanda bahwa bangsa ini masih tahu cara menghargai pejuang seni.

Mari kita doakan, agar Engkus segera pulih. Dan semoga, ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk lebih peduli pada mereka yang telah mempersembahkan hidupnya untuk budaya.

Skintific